BAGIAN SATU: ANAK PULAU
Bab 1: Ibu
I. Pagi yang Masih Utuh
1. Usapan yang Tidak Pernah Kembali
Di kamar itu, ada sebuah tikar anyaman. Anyamannya rapatserapat jari-jari ibu yang tidak pernah lelah menganyam. Tapi di beberapa tempat, serat pandan mulai lepas, meninggalkan celah-celah kecil di mana lantai kayu di bawahnya terlihat. Celah-celah itu bukan cacat. Itu adalah peta dari semua lutut kecil yang pernah berlutut di atasnya, dari semua tubuh mungil yang pernah berguling di atasnya dalam tidur yang tidak terganggu mimpi buruk.
Di atas tikar itu, seorang anak laki-laki terbaring. Selimut yang menutupinya bukan selimut tebalhanya selembar kain katun tipis dengan tambal-sulam di sana-sini. Jahitannya tidak rapi: ada yang dengan benang putih, ada yang dengan benang hitam, ada yang jarak tusuknya terlalu rapat hingga kain mengerut di satu titik. Jahitan yang dibuat oleh tangan yang belajar.
Anak itu terbangun bukan karena suara.
Tapi karena usapan.
Usapan di kepalanya. Lembut. Hangat. Jari-jari yang tidak kasar meskipun sudah seharian direndam air sungai dan sabun colek.
Usapan itu tidak bisa dilihat. Tapi bisa dirasakan. Bisa diingat. Puluhan tahun kemudian, ketika usapan itu sudah tidak ada lagi, anak ituyang kini sudah tuamasih bisa merasakannya di rambutnya yang mulai memutih. Seperti hantu yang tidak pernah pergi.
"Nok, bangun."
Suara itu. Pelan. Serak karena baru bangun. Tapi hangathangat seperti air mendidih yang baru diangkat dari tungku, yang masih mengepulkan uap tipis ke udara pagi.
Anak itu membuka mata.
2. Wajah yang Akan Luntur
Wajah seorang ibu di pagi hari, sebelum matahari naik terlalu tinggi, adalah pemandangan yang tidak akan pernah bisa diabadikan oleh kamera mana pun. Karena cahaya saat itu masih lembutmasih abu-abu keunguan di ujung timurdan wajah ibu di bawah cahaya itu memiliki warna yang tidak bisa ditiru: cokelat keemasan, dengan bayangan tipis di bawah tulang pipinya yang menonjol.
Rambut ibu panjang. Hitam. Ikal di ujung-ujungnya. Ia mengikatnya dengan kain batik lusuhkain yang motifnya sudah tidak jelas lagi, hanya gumpalan-gumpalan warna yang saling bertabrakan tanpa bentuk. Kain itu sudah bertahun-tahun ia pakai. Di salah satu ujungnya, ada bekas jahitan yang tidak rapijahitan yang dibuat oleh ibu sendiri, karena kain itu pernah robek saat ia menariknya terlalu kencang.
Di sudut mata ibu, ada kerutan. Kerutan halus yang tidak kasatmata jika kau tidak menatap cukup lama. Kerutan itu tidak berasal dari usiaibu masih muda, baru tiga puluh tahun. Kerutan itu berasal dari terlalu banyak tersenyum di pagi hari, dari terlalu banyak mengucek mata karena asap dapur, dari terlalu banyak menatap laut ketika ayah belum pulang melaut.
Anak itu menatap wajah ibunya.
Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, wajah itu akan luntur dari ingatannya. Tidak sekaligus. Perlahan. Seperti foto yang disimpan di tempat lembabawalnya masih jelas, lalu kabur di tepi, lalu pudar di tengah, lalu hanya tersisa siluet yang tidak bisa lagi ia kenali.
Yang tersisa nanti bukanlah wajah.
Tapi usapan. Tapi suara. Tapi rasa.
3. Dapur dan Aroma yang Tidak Pernah Hilang
Dapur di rumah panggung itu bukanlah ruangan. Ia hanya biliktiga meter persegi, dengan dinding dari anyaman bambu yang renggang sehingga angin bisa masuk dari sela-selanya. Di langit-langit, jelaga menempel teballapisan hitam yang mengilap, endapan dari bertahun-tahun asap yang tidak pernah punya tempat keluar yang layak.
Di sudut dapur, sebuah tungku dari batu bata merah. Batu bata itu tidak lagi merahwarnanya telah menjadi hitam keabu-abuan, keropos di beberapa tempat, seperti kulit orang tua yang kehilangan elastisitasnya. Di atas tungku, sebuah wajan tanah liat. Wajan itu bundar, dangkal, dengan pegangan pendek yang sudah licin karena terlalu sering dipegang. Di permukaannya, retakan-retakan halus mengakar seperti sungai di petatanda bahwa wajan ini sudah tua, sudah melalui ratusan kali panas dan dingin, sudah menyaksikan ratusan ikan digoreng untuk sarapan.
Dan aroma.
Aroma ikan bakar yang bercampur dengan kunyit, jahe, bawang putih, dan sedikit asap dari kayu bakar yang masih membara. Aroma itu tidak hanya masuk ke hidungia meresap ke dalam dinding anyaman, ke dalam baju yang tergantung di belakang pintu, ke dalam rambut yang tidak pernah dicuci setiap hari. Ia adalah aroma rumah. Aroma yang, puluhan tahun kemudian, ketika anak itu sudah hidup di kota dengan gedung-gedung tinggi dan restoran ber-AC, akan tiba-tiba muncul tanpa alasandi tengah rapat, di dalam taksi, di sela-sela tidur yang gelisahdan membuatnya berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan menangis tanpa suara.
4. Ikan dan Jari yang Lincah
Ibu mengambil ikan dari wajan. Tangannya lincahjari-jarinya bergerak seperti penari yang sudah hafal setiap gerakan. Ia mengambil sepotong ikan kembung, meniupnyaembusan napasnya membuat uap panas mengepul ke udara pagilalu menyodorkannya ke mulut anak itu.
"Coba."
Anak itu menggigit. Daging ikan itu lembutterurai di lidah seperti pasir yang larut dalam air. Sedikit pedas. Sedikit asam. Ada rasa kunyit yang hangat di tenggorokan, rasa jahe yang menusuk sedikit di ujung lidah.
"Enak, Bah!"
Ibu tersenyum. Dan di senyum itu, di kerutan halus di sudut matanya, di lekukan bibir yang naik hanya beberapa milimeter, tersimpan seluruh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diajukan: Apakah kau bahagia? Apakah semua ini cukup? Apakah lelahmu terbayar sudah?
Senyum ibu tidak pernah berbohong.
II. Sungai dan Sabun yang Mengalir
1. Ember Biru yang Tua
Ember itu biru. Atau dulu pernah biru. Kini warnanya telah memudar menjadi abu-abu kebiruan, dengan goresan-goresan putih di sana-sinibekas gesekan dengan batu-batu sungai, bekas gigitan tikus di tepiannya, bekas diinjak-injak oleh kaki kecil yang tidak tahu diri.
Pegangan ember itu terbuat dari kawat besi yang sudah berkarat. Karatnya tidak rataada bagian yang hitam kehijauan, ada bagian yang cokelat kemerahan, ada bagian yang masih mengilap karena terlalu sering dipegang. Setiap pagi, ember ini diisi dengan pakaian kotorkaus ayah yang berlubang di ketiak, rok ibu yang lusuh, celana pendek anak itu yang selalu robek di lutut.
Ember ini adalah saksi. Ia telah melihat lebih banyak cucian daripada siapa pun. Ia telah mendengar lebih banyak lagu yang dinyanyikan ibu sambil menggosok baju. Ia telah merasakan lebih banyak air sungai mengalir di permukaannya.
Suatu hari, ember ini akan retak. Air akan bocor dari retakan itu, membasahi tanah, meninggalkan genangan yang menguap di bawah matahari. Dan tidak ada yang akan memperbaikinya. Karena tidak ada lagi yang membawa pakaian ke sungai.
Tapi itu nanti.
2. Batu Pipih yang Licin
Di tepi sungai itu, ada sebuah batu. Batu pipih, selebar dua telapak tangan, dengan permukaan yang licin mengkilaplicin bukan karena dipoles, tapi karena bertahun-tahun digosok oleh pakaian basah, oleh lutut ibu yang berlutut di atasnya, oleh sabun colek yang meleleh dan meresap ke pori-pori batunya.
Batu itu tidak pernah berpindah tempat. Banjir tidak pernah menggesernya. Tangan-tangan yang mencoba mengangkatnya untuk dijadikan tempat duduk tidak pernah berhasil. Batu itu telah memilih tempatnyadi tikungan sungai, di mana arus sedikit lebih lambat, di mana airnya sedikit lebih dalam.
Ibu berlutut di atas batu itu. Lututnyayang kulitnya sudah menebal karena terlalu sering bersentuhan dengan batumenekan permukaan yang licin itu dengan berat yang sama setiap pagi. Ada ritme dalam gerakannya: merendam, mengangkat, menyabuni, menggosok, membilas. Merendam, mengangkat, menyabuni, menggosok, membilas.
Ritme yang sama setiap hari.
Ritme yang suatu hari akan berhenti.
Dan batu itu akan tetap di sana. Licin. Mengkilap. Menunggu lutut yang tidak akan pernah kembali.
3. Busa yang Mengalir ke Laut
Sabun colek itu berwarna hijau. Hijau seperti daun singkong, hijau seperti lumut di dinding sumur. Teksturnya lembutjika ditekan dengan jari, ia akan meninggalkan bekas cekungan yang perlahan-lahan kembali ke bentuk semula. Baunya tajammenusuk hidung, meninggalkan rasa pahit di pangkal lidah jika kau terlalu dekat.
Ibu menggosokkan sabun itu ke pakaian. Busa-busa putih kehijauan muncul di antara jari-jarinya, mengalir ke air sungai, lalu hanyut terbawa arus. Busa-busa itu tidak pernah sampai ke laut. Ia akan pecah di perjalanan, terurai menjadi molekul-molekul kecil yang tidak terlihat, menjadi bagian dari air yang akan diminum ikan, yang akan menguap menjadi awan, yang akan jatuh sebagai hujan di suatu tempat yang jauh.
Tapi pada pagi itu, busa-busa itu masih utuh. Mereka bergerombol di permukaan air, bergoyang-goyang lembut, menempel di lengan ibu yang kurus, di siku yang kulitnya mulai mengeriput.
Seorang anak duduk di batu lain, kakinya yang kecil mengaduk air.
Percikan pertama mengenai lengan ibu.
"Heh!"
Percikan kedua mengenai pipinya.
"Andra!"
Tapi ibu tersenyum. Senyum yang membuat busa-busa di wajahnya bergetar.
4. Jepitan yang Tidak Sakit
Ibu bangkit. Batu itu berderit pelanbukan derit, tapi gesekan antara lututnya yang basah dan permukaan batu yang licin. Ia setengah berlari mengejar anak itu, ember di tangan kiri, sabun masih menempel di jari-jari kanannya. Air menetes dari bajunya yang basah, membentuk titik-titik gelap di tanah berbatu.
Anak itu berlari. Tertawa. Suaranya bergema di antara pohon-pohon rindang di sepanjang sungai, memantul dari batang ke batang, lalu hilang ditelan suara air yang mengalir.
Ibu menangkapnya. Bukan dengan kecepatantapi dengan strategi. Ia tahu anak itu akan berbalik di pohon mangga yang akarnya menjorok ke sungai. Ia sudah hafal.
Jepitan di telinga. Tidak sakit. Hanya tekanantekanan yang tepat, yang tidak cukup untuk membuat menangis, tapi cukup untuk membuat berhenti tertawa.
"Nanti ibu bilang sama ayah. Kau nakal."
"Ibu ndak akan bilang. Ibu sayang Andra."
Ibu terdiam. Air sungai mengalir di antara mereka, membawa daun-daun kering yang hanyut entah ke mana.
Lalu ia menekuk lutut. Wajahnya turun hingga sejajar dengan wajah anak itu. Di matanya yang cokelat gelapwarna tanah basah setelah hujanterpantul bayangan wajah kecil dengan senyum yang masih tersisa.
"Iya, Nok. Ibu sayang kau. Sayang banget."
Ia memeluk anak itu. Pelukan yang hangat. Meski bajunya basah. Meski bau sabun menusuk hidung. Meski tangannya masih licin oleh busa.
Di belakang mereka, sungai terus mengalir.
Dan di kejauhan, laut menunggu.
III. Demam yang Datang Diam-Diam
1. Gemetar yang Tidak Bisa Disembunyikan
Gemetar itu mulai dari jari tangan.
Bukan gemetar biasa. Tapi gemetar yang ritmisbergetar dengan frekuensi yang sama setiap kali, seperti ada sesuatu yang berdenyut di dalam sendi-sendi jari. Ibu memegang wajan tanah liat. Wajan itu bergoyang. Bukan goyangan yang disengajatapi goyangan yang mengikuti ritme gemetar di tangannya.
Beberapa potong ikan jatuh ke abu.
Pluk.
Abu putih menempel di daging ikan yang masih panas, membentuk lapisan tipis seperti tepung. Ibu memungutnya. Tangannya gemetar lagi. Ikan itu jatuh lagi.
Pluk.
Ibu berhenti. Ia menatap tangannya. Telapak tangannyayang dulu lincah, yang bisa mengupas bawang tanpa meneteskan air mata, yang bisa menangkap ikan hidup-hidup di sungaikini tidak bisa dipercaya.
"Bah, kenapa tangan ibu gemetar?"
Ibu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Ndak apa-apa, Nok. Ibu cuma kurang tidur."
Itu dusta. Tapi anak itu terlalu kecil untuk tahu bahwa orang dewasa juga bisa berbohong. Dan terlalu kecil untuk tahu bahwa di balik gemetar itu, ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam tubuh ibusesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, tapi bisa dirasakan sebagai panas yang tidak pernah benar-benar pergi.
2. Tikar yang Semakin Dalam
Tikar anyaman itu semakin dalam.
Maksudku: tubuh ibu semakin tenggelam ke dalam anyaman pandan yang dulu terasa datar. Kini, di tempat ia biasa berbaring, ada cekunganlekukan yang mengikuti bentuk tubuhnya yang kurus, dari bahu hingga pinggul, dari pinggul hingga tumit.
Di atas tikar itu, ibu terbaring. Selimut tipiskain katun yang sudah ditambal di tiga tempatmenutupi setengah tubuhnya. Di satu sudut selimut, ada jahitan dengan benang merah. Benang yang tidak cocok dengan warna kainmerah mencolok di atas putih kusam. Jahitan itu dibuat oleh ayah, suatu malam ketika ia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk memperbaiki selimut yang robek.
Wajah ibu pucat. Pucat seperti kain yang sudah terlalu sering dicuciwarnanya memudar, meninggalkan hanya sisa-sisa yang tidak jelas. Tulang pipinya menonjollebih menonjol dari biasanya, membuat bayangan di bawahnya semakin dalam saat cahaya lampu minyak jatuh dari samping.
Bibirnya kering. Pecah-pecah. Di celah-celah bibir itu, kadang muncul setitik darahkering, menghitam, seperti kerak di dasar panci.
"Bah, Andra lapar."
Ibu membuka mata. Matanya sayutidak fokus, seperti melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Butuh beberapa detik bagi matanya untuk menemukan wajah anak itu di sampingnya.
"Nok... ibu sakit. Sebentar, ya. Ibu mau... istirahat dulu."
Suaranya lirih. Lirih seperti bisikan. Seperti suara yang sudah setengah jalan menuju kepergian.
3. Panas yang Dingin
Anak itu memegang tangan ibu.
Tangannya panas. Panas seperti air yang baru mendidihpanas yang membuat kulit terasa terbakar hanya dengan menyentuhnya. Tapi di saat yang sama, tangannya juga dingin. Dingin seperti air sumur di tengah malamdingin yang merambat ke tulang, yang membuat bulu kuduk berdiri.
Panas dan dingin. Bersamaan. Dalam satu sentuhan.
Ada perang di dalam tubuh ibu. Perang antara sesuatu yang tidak dikenal dan pertahanan yang semakin lemah. Dan anak itu, dengan tangannya yang kecil, merasakan getaran perang itutanpa mengerti apa yang sedang terjadi.
"Ibu panas, Bah."
"Iya, Nok. Tapi ibu... ibu ndak apa-apa."
Itu dusta lagi.
Tapi anak itu tidak tahu.
Dan ibu terlalu lemah untuk mengatakan yang sebenarnya.
IV. Perahu yang Berangkat
1. Gendongan yang Terlalu Ringan
Ayah menggendong ibu.
Tangannyatangan yang biasa menarik jaring dengan kekuatan dua ekor kuda, yang biasa mengangkat dayung seberat tubuhnya sendirikini gemetar. Bukan karena beban. Tapi karena takut.
Tubuh ibu terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti tidak ada isi di dalamnya. Seperti yang tersisa hanya kulit dan tulang, sementara daging dan darahnya sudah habis dimakan oleh demam yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ayah memasukkan satu tangan di bawah leher ibu, satu tangan di bawah lututnya. Ibu menggantung di pelukannya seperti kain basahlemah, tidak berdaya, menyerah pada gravitasi.
"Nok, kau di rumah sama Bu RT."
"Aku ikut, Bah."
"Tidak."
Suara ayah tegas. Tapi di balik ketegasan itu, ada getaran. Getaran yang sama seperti gemetar di tangan ibu.
2. Dermaga yang Reot
Dermaga itu terbuat dari papan-papan kayu yang sudah lapuk. Beberapa papan sudah hilangmeninggalkan lubang-lubang menganga di mana air laut terlihat di bawahnya. Paku-pakunya berkarat, kepalanya sudah rata terinjak-injak selama bertahun-tahun.
Di dermaga itu, sebuah perahu kayu tertambat. Perahu itu tidak besarcukup untuk tiga atau empat orang. Catnya sudah mengelupas di mana-mana, meninggalkan bercak-bercak putih di atas kayu cokelat tua. Di lambungnya, ada goresan-goresan panjangbekas gesekan dengan karang, bekas tali tambat yang terlalu kencang, bekas ombak yang tidak pernah ramah.
Ayah menaiki perahu itu sambil menggendong ibu. Perahu itu olengbergoyang ke kiri, ke kanan, seperti tidak stabil. Pak Rahmat, pemilik toko kelontong, duduk di belakang dengan dayung di tangannya. Dayung itu panjanglebih panjang dari tubuh Pak Rahmatdengan bilah yang lebar di ujungnya, sudah aus karena terlalu sering membelah air.
"Siap, Pak Yudha?"
"Siap."
Dayung itu menyentuh air.
3. Titik yang Hilang
Anak itu berdiri di dermaga. Bu RT memeluknya dari belakang, tangannya yang gemuk melingkar di perut anak itu, menahannya agar tidak berlari ke air.
Perahu itu bergerak perlahan. Meninggalkan dermaga. Meninggalkan pantai. Meninggalkan suara ombak yang berdebur di tepi.
Ayah tidak menoleh. Ia hanya menunduk, menatap wajah ibu yang terbaring di pangkuannya.
Perahu itu semakin kecil.
Semakin kecil.
Lalu menjadi titik.
Lalu hilang.
Ditelan birunya laut yang tidak bertepi.
Dan di dermaga yang reot itu, seorang anak kecil berdiri. Ia tidak menangis. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya, kuku-kuku kecilnya menusuk telapak tangan yang masih lembut.
Ia tidak tahu bahwa ia baru saja melihat ibunya untuk terakhir kalinya.
V. Tiga Hari yang Tidak Pernah Berakhir
1. Pintu yang Tidak Pernah Terbuka
Tiga hari.
Tiga malam.
Anak itu tidur di rumah Bu RT. Rumah yang lebih besar dari rumahnyadinding papan dicat hijau pudar, lantai tidak begitu berderit, dan di ruang tamu ada foto-foto keluarga dalam bingkai kayu.
Tapi anak itu tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat pintu. Matanya tidak pernah lepas dari jalan setapak yang menghubungkan rumah Bu RT dengan dermaga. Jalan setapak itu terbuat dari tanah dan batu kerikildi beberapa tempat, rumput liar tumbuh di tengahnya, dan di satu tikungan, ada pohon kelapa yang batangnya miring seperti ingin roboh.
Setiap kali angin bertiup, daun-daun kelapa itu bergoyang. Dan setiap kali daun-daun itu bergoyang, anak itu berharap itu adalah bayangan ayah yang pulang.
Tapi pintu itu tidak pernah terbuka.
Bukan karena tidak ada yang membukanya. Tapi karena pintu itupintu kayu dengan engsel berkarat yang berdecit setiap kali digerakkantidak pernah mendapat kesempatan untuk berdecit.
2. Langkah yang Tidak Terdengar
Pada malam ketiga, langkah kaki terdengar di jalan setapak.
Kres... kres... kres...
Suara kerikil yang terinjak. Suara yang sudah sangat dikenalirama langkah ayah yang tidak terburu-buru, yang kakinya sedikit menyeret karena terlalu lelah.
Anak itu berlari. Kakinya yang telanjang menghantam tanah berbatutidak terasa sakit. Tidak ada yang terasa sakit saat itu.
Ia membuka pintu.
Ayah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tidak bisa dibacabukan marah, bukan sedih, bukan lega. Wajah yang kosong. Kosong seperti langit tanpa bintang. Kosong seperti laut di saat tidak ada ombak.
"Bah, mana ibu?"
Ayah tidak menjawab.
Ia melewati anak itu. Melewati Bu RT yang berdiri di ruang tamu. Melewati tetangga-tetangga yang berkumpul di halaman.
Ia berjalan ke beranda rumahnya sendirirumah di samping rumah Bu RT. Ia duduk di kursi bambu. Kursi itu berderitderit yang berbeda dari biasanya. Derit yang lebih berat, lebih dalam, seperti kursi itu sendiri ikut merasakan beban yang tidak terlihat.
Ayah menatap laut.
Laut yang gelap.
Dan di atas meja kayu di sampingnyameja dengan permukaan tidak rata, berlubang di satu suduttidak ada apa-apa.
Tapi besok malam, akan ada dua gelas.
Dan gelas kosong itu akan mulai bercerita.
VI. Gelas yang Mulai Berbicara
1. Dua Gelas
Gelas pertama adalah gelas biasa. Bukan gelas mahalgelas kaca murah yang dulu dibeli dari kapal logistik. Ketebalannya tidak rata: ada bagian yang lebih tipis, ada bagian yang lebih tebal, dan di dasar gelas, ada gelembung-gelembung udara kecil yang terperangkap saat gelas itu dicetak.
Gelas ini akan diisi susu.
Gelas kedua adalah gelas yang sama. Dibeli dari toko yang sama, pada hari yang sama. Tapi gelas ini tidak akan pernah diisi.
Ia akan kosong.
Dan di dalam kekosongannya, ia akan menyimpan lebih banyak cerita daripada gelas yang penuh.
2. Debu yang Mulai Menumpuk
Malam itu, untuk pertama kalinya, dua gelas diletakkan di atas meja kayu di beranda.
Ayah menuang susu ke gelas pertama. Susu itu hangatmasih mengepulkan uap tipis yang naik ke udara malam, berputar-putar sebentar, lalu lenyap.
Ia mengangkat gelas itu. Meminumnya. Seteguk. Dua teguk.
Lambungnya sakit. Sakit yang menusukseperti ada yang mengaduk-aduk di dalam perutnya. Ia meringis. Kerutan di wajahnya bertambah dalam.
Ia menatap gelas kosong di hadapannya.
"Nok, ini susu. Enak, lho."
Gelas kosong itu tidak menjawab. Tapi ayah tertawa kecil.
Ia minum lagi.
Meringis lagi.
Lalu berbicara lagi.
Dan di permukaan gelas kosong itu, debu mulai menumpuk. Tidak terlihat pada malam pertama. Tidak juga pada malam kedua.
Tapi pada malam ke-seratus, jika kau memegang gelas itu dan meniupnya, debu akan beterbangan di udaratipis, halus, seperti abu yang tidak pernah benar-benar padam.
Debu itu bukan sekadar kotoran.
Debu itu adalah waktu.
Waktu yang berlalu tanpa kehadiran.
Waktu yang menunggu.
Comments
Post a Comment