RASA YANG TERTUNDA
PROLOG: Laut yang Menunggu
Di Pulau Laut, Natuna, ombak tidak pernah berhenti. Bukan karena ia setia. Tapi karena ia tidak punya pilihan lain. Ia datang dan pergi, datang dan pergi, dalam ritme yang sama selama ribuan tahunsebelum rumah panggung itu berdiri, sebelum nelayan itu lahir, sebelum anaknya tertidur di pangkuannya.
Ombak tidak peduli. Tapi ombak menjadi saksi.
Rumah panggung itu menghadap ke laut lepas. Bukan karena pilihan. Tapi karena di pulau ini, ke mana pun kau menghadap, yang kau lihat tetaplah air. Biru. Tak bertepi. Dan di biru itu, sebuah perahu kecil bersandar di dermaga kayu yang reotpapan-papannya sudah lapuk, paku-pakunya berkarat, dan di beberapa tempat, lubang-lubang kecil menganga seperti mulut yang kehilangan gigi.
Di beranda rumah itu, seorang lelaki muda duduk di kursi bambu. Kursi itu sudah tuasandaran yang terbuat dari bilah bambu sudah rekah di tiga tempat, diikat dengan tali tambang yang mulai berjumbai. Tali itu, jika diperhatikan, diikat dengan simpul yang berbeda-beda: yang satu simpul nelayan, rapi dan kuat; yang lain hanya lilitan biasa, longgar, seperti dikerjakan dengan tergesa-gesa. Setiap kali orang duduk di kursi itu, bambu-bambunya berderitbukan derit biasa, tapi derit yang sudah hafal dengan berat tubuh siapa yang duduk di atasnya.
Di samping lelaki itu, seorang anak laki-laki tertidur. Tubuhnya yang kecil digendong dengan kain sarungkain katun tipis yang warnanya sudah pudar, motif kotak-kotaknya hampir tidak terbaca. Di beberapa tempat, kain itu berlubanglubang kecil yang tepiannya sudah berjumbai, seperti bekas gigitan waktu. Di ujung sarung, ada jahitan yang tidak rapi: jarak tusuknya tidak sama, benangnya keluar-masuk di sana-sini. Jahitan yang dibuat oleh tangan yang tidak terbiasa memegang jarum.
Lelaki itu menatap anaknya. Lalu matanya beralih ke laut.
Dan di kejauhan, di antara langit dan air yang bertemu dalam garis tipis tak bertepi, ombak terus berdebur. Seperti bisikan yang tidak pernah lelah.
"Nok," bisiknya. "Suatu hari kau harus pergi."
Ia menghela napas. Angin laut membawa napas itu, mengoyaknya, menyebarkannya ke udara asin yang tidak pernah kering.
"Tapi jangan lupa pulang."
Di atas meja kayu di sampingnyameja dengan permukaan yang tidak rata, berlubang di satu sudut karena pernah dimakan rayaptidak ada apa-apa malam itu. Tapi suatu hari nanti, di meja ini, akan ada dua gelas.
Satu berisi susu. Satu kosong.
Dan gelas kosong itu akan bercerita tentang berapa lama ia menunggu.
Comments
Post a Comment